Krisis Kemalasan

Saya dilanda krisis kemalasan. Krisis yang menghancurkan dan memusnahkan to-do-list sepanjang berada di rumah.

Saya perlu belajar membaca dengan pecutan, akal perlu bekerja dengan lebih baik, memori perlu lebih mesra ‘ilmu-ilmu keperluan’. Kerana kecewa dengan sikap ini, saya menulis melawannya. memBUNUHnya memang sukar. Maka kepada kawan-kawan seangkatan punya sikap seperti ini, NAH: (bukan lagu indon, tazkiyatun-Nafs versi indon)

Adapun ciri-ciri krisis ruhiyah (spritual) adalah :

1. Rasa malas menunaikan ibadah fardhu, khususnya sholat fardhu berjamaah di masjid dengan alasan sibuk, penat berdakwah dan berbagai alasan lain yang diciptakan.

2. Rasa berat menunaikan iabadah-ibadah nafilah (sunnah), khsusnya qiyamullail (sholat) tahajjud, dengan alasan penat berdakwah serta berat untuk berinfaq dengan berbagai alasan seperti sudah digunakan untuk kebutuhan dakwah yang lain.

3. Terasa berat membaca dan mentadabburkan Al-Qur-an, menelaah Sunnah Nabawiyyah serta kehidupan Salafus Sholeh.

4. Tidak bisa zikrullah (berzikir pada Allah) dengan banyak. Ingat, di antara ciri-ciri kaum munafik ialah malas sholat dan tidak bisa banyak melakukan dzikrullah.

5. Lesu berdakwah jika tidak menghasilkan keuntungan duniawi. Sebaliknya, sangat bersemangat berdakwah jika secara langsung atau tidak langsung menghasilkan keuntungan duniawi.

6. Menggunakan akal dalam menghadapi berbagai masalah yang pada akhirnya terlihat mengada-ada atau memaksakan nushush syar’yah (dalil-dalil syar’i) untuk menjawab berbagai ekses yang muncul dari sikap dan tingkah laku yang salah.

Adapun efek negatif krisis ruhiyah (spritual) adalah :

1. Hati keras, walaupun mempunyai penampilan wajah selembut salju.

2. Ukhuwwah (persaudaraan) kering, cuek (tidak sensitif dan solideritas / kesetiakawanan tipis) dan terkadang cenderung materialistik.

3. Tidak bisa khusyuk sholat dan beribadah lainnya, karena hati masyghul menghayalkan dunia, walaupun dalam bungkusan dakwah atau agma.

4. Tidak bisa menerima kritik dan nasehat, khususnya terkait dengan kesalahan pribadinya.

5. Bila berselisih pendapat bisa menimbulkan dendam kesumat yang berkepanjangan, sambil berupaya membangkrutkan semua yang dianggap berlawanan / berseberangan pendapat.

6. Bersikap nifaq (tidak berani berterus terang) dan tidak bisa mengakui kesalahan.

7. Ujub (bangga) dengan diri dan pendapatnya, termasuk dengan kelompok dan jama’ahnya.

8. Sombong alias tidak mau menerima kebenaran dan pendapat orang lain atau jama’ah lain selain elite jama’ah kelompoknya.

9. Hatinya cenderung dan mudah silau terhadap kehidupan duniawi.

10. Obrolan dan cita-cita menumpuk kesenangan dunia cendrung meningkat frekuensinya, padahal mereka bukanlah para pengusaha. 11. Memanfaatkan jama’ah dan dakwah untuk meraih keuntungan duniawi.

12. Mencampur adukkan antara Al-Haq dengan Al-Bathil (split personality), seperti rajin beribadah dan berzikir, tapi rajin juga memanfaatkan dakwah untuk kepentingan duniawi, memakan harta yang diperoleh bukan dengan jalan yang halal, atau dimulutnya keluar kata-kata keharusan zuhud dan warak terhadap dunia, namun kenyataan hidupnya penuh galamor dan berfoya-foya.

Kata mahu Islam gemilang, kata mahu jadi Muslim cemerlang!! Maka, BUKTIKAN!!! Wallahua’lam. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: